Selasa, 14 Februari 2012

Akhlak


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb

            Alhamdulillah segala puji syukur kepada ALLAH SWT, atas segala rahmat dan hidayah-Nya serta karunia-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Sholawat dan salam semoga tercurahkan atas Rasulallah Nabi Muhammad SAW, keluarga para sahabat dan pengikutnya yang setia hingga akhir Zaman.
            Dengan telah selesainya makalah ini diharapkan para mahasiswa dapat memahami secara ringkas dan mendalam tentang “Akhlak”. Mudah-mudahan makalah ini dapat dijadikan referensi bagi para mahasiswa hingga kelak dapat mengenal “Akhlak”.
            Kemudian kami menyadari bahwa selama penulisan makalah ini tidak lepas dari bantuan dan banyak pihak baik secara langsung maupun tidak langsungmemberikan arahan, ide, dan saran.
            Semoga segala kebaikan yang diterima menjadi berkat tersendiri bagi penulis, sehingga menjadi bekal yang sangat bermanfaat di kehidupan penulis nantinya.
            Akhir kata apa yang telah penulis lakukan dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca dan pihak-pihak yang membutuhkan, kritik dan saran yang membangun penulis terima untuk menyempurnakan dimasa yang akan datang.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Tangerang,  Oktober 2011





                                                                                                                Penyusun






BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pendidikan Islam pada intinya adalah sebagai wahana pembentukan manusia yang bermoralitas tinggi. Di dalam ajaran Islam moral atau akhlak tidak dapat dipisahkan dari keimanan. Keimanan merupakan pengakuan hati. Akhlak adalah pantulan iman yang berupa perilaku, ucapan, dan sikap atau dengan kata lain akhlak adalah amal saleh. Iman adalah maknawi (abstrak) sedangkan akhlak adalah bukti keimanan dalam bentuk perbuatan yang dilakukan dengan kesadaran dan karena Allah semata.
Berkaitan dengan pernyataan di atas bahwa akhlak tidak akan terpisah dari keimanan, dalam al-Qur'an juga sering dijelaskan bahwa setelah ada pernyataan “orang-orang yang beriman,” maka langsung diikuti oleh “beramal saleh.” Dengan kata lain amal saleh sebagai manifestasi dari akhlak merupakan perwujudan dari keimanan seseorang. Pemahaman moralitas dalam bahasa aslinya dikenal dengan dua istilah yaitu al-akhlaq al-karimah dan al-akhlaq al-mahmudah. Keduanya memiliki pemahaman yang sama yaitu akhlak yang terpuji dan mulia, semua perilaku baik, terpuji, dan mulia yang diridlai Allah.
Satu masalah sosial/kemasyarakatan yang harus mendapat perhatian kita bersama dan perlu ditanggulangi dewasa ini ialah tentang kemerosotan akhlak atau dekadensi moral.
Di samping kemajuan teknologi akibat adanya era globalisasi, kita melihat pula arus kemorosotan akhlak yang semakin melanda di kalangan sebagian pemuda-pemuda kita. Dalam surat-surat kabar sering kali kita membaca berita tentang perkelahian pelajar, penyebaran narkotika, pemakaian obat bius, minuman keras, penjambret yang dilakukan oleh anak-anak yang berusia belasan tahun, meningkatnya kasus-kasus kehamilan dikalangan remaja putrid dan lain sebagainya.
Hal tersebut adalah merupakan suatu masalah  yang dihadapi masyarakat yang kini semakin marak, Oleh kerena itu persoalan remaja seyogyanya mendapatkan perhatian yang serius dan terfokus untuk mengarahkan remaja ke arah yang lebih positif,  yang titik beratnya untuk terciptanya suatu sistem dalam menanggulangi kemerosotan akhlak dan moral dikalangan remaja.

1.2    Perumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang tersebut, agar dalam penulisan ini memperoleh hasil yang diinginkan, maka penulis mengemukakan beberapa rumusan masalah. Rumusan masalah itu adalah:

1.      Pengertian dan  ruang lingkup akhlak?
2.      Perbandingan Ukuran baik buruk dalam akhlak dengan aliran dalam filsafat etika?
3.      Implementasi akhlak dalam kehidupan bersama?

1.3    Tujuan penulisan
 Makalah ini mempunyai tujuan, yaitu:
1.      Menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Pendidikan Agama.
2.      Mahasiswa/i agar dapat memahami pengertian dan ruang lingkup akhlak.
3.      Mahasiswa/i agar dapat memahami perbandingan baik buruk dalam akhlak.
4.      Mahasiswa/i agar dapat memahami implementasi akhlak dalam kehidupan sehari-hari.



Pengertian dan Ruang Lingkup Akhlak

1.     Pengertian Akhlak
Kata akhlak berasal dari kata khilqun, yang mengandung segi-segi persesuaian kata khaliq dan makhluq. Dalam Bahasa Indonesia yang lebih mendekati maknanya dengan akhlak adalah budi pekerti. Baik budi pekerti maupun akhlak mengandung makna yang ideal, tergantung pada pelaksanaan atau penerapannya melalui tingkah laku yang mungkin positif atau baik, seperti amanah, sabar, pemaaf, rendah hati dll. Dan mungkin negatif atau buruk, seperti sombong, dendam, dengki, hianat dll.
Akhlak adalah kelakuan yang timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani, pikiran, perasaan, bawaan dan kebiasaan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindak lanjut yang dihayati dalam kenyataan hidup sehari-hari. Dari kelakuan itu lahirlah perasaan moral (moralsence) yang terdapat di dalam diri manusia sebagai fitrah, sehingga ia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Menurut definisi yang dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali, akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia) yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang mudah dilakukan, tanpa terlalu banyak pertimbangan dan pemikiran yang lama.
Suri teladan yang diberikan Rasulullah SAW. selama hidup beliau merupakan contoh akhlak yang tercantum dalam Al-Qur’an. Butir-butir .
     Akhlak yang baik yang disebut dalam ayat yang ada di dalam al-Qur’an terdapat juga dalam Al-Hadist yang memuat perkataan, tindakan dan sikap diam Nabi Muhammad SAW. Selama kerasulan beliau 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Menurut siti ‘Aisyah ra. (Istri Rasulullah SAW.), bahwa akhlak rasulullah SAW. Adalah al-Qur’an. Dan di dalam Al-Qur’an pun Rasulullah SAW. Dipuji oleh Allah SWT. Dengan Firman-Nya:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya :
“Dan engkau Muhammad, sungguh memiliki akhlak yang agung”. (QS. Al-Qalam ayat 4).


Suatu perbuatan baru dapat disebut sebagai cerminan akhlak, jika memenuhi syarat :
1. Dilakukan berulang-ulang sehingga hampir menjadi suatu kebiasaan.
2. Timbul dengan sendirinya, tanpa pertimbangan yang lama dan di pikir-pikir terlebih dahulu.
Secara garis besarnya akhlak dibagi dua, yaitu :
 1. Akhlak terhadap Allah SWT.
2. Akhlak terhadap makhluk (semua ciptaan Allah SWT.)
Akhlak terhadap makhluk dapat dibagi dua, yaitu :
1. Akhlak terhadap manusia
2. Akhlak terhadap bukan manusia
Akhlak terhadap manusia dibagi dua, yaitu :
1. Akhlak terhadap diri sendiri
2. Akhlak terhadap orang lain
Akhlak terhadap bukan manusia dibagi dua, yaitu :
1.   Akhlak terhadap makhluk hidup bukan manusia, seperti akhlak terhadap tumbuh-tumbuhan (flora) dan hewan (fauna)
2.   Akhlak terhadap makhluk (mati) bukan manusia, seperti akhlak terhadap tanah, air, udara, dsb. Akhlak terhadap manusia dan bukan manusia, kini disebut akhak terhadap lingkungan hidup.
2.       Ruang Lingkup Akhlak

Bentuk dan ruang lingkup akhlak Islam meliputi tiga aspek yaitu :
1.)    Akhlak Kepada Allah SWT. Manusia diciptakan oleh Allah SWT. sebagai makhluk yang mulia dan utama, kalau dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah yang lainnya. Keutamaan itu terhadap pada unsur kejadiannya, sifat-sifatnya dan yang terutama sekali terdapat pada akal pikiran manusia itu sendiri.Dengan keutamaan seperti itu manusia diberi tugas yang sangat berat yaitu menjadi Khalifah Allah dimuka bumi ini. Sehingga kemakmuran alam semesta merupakan tugas kita di dunia ini.
Firmankan Allah SWT dalam surat Adz – Dzariyaat ayat- 56,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya:
Dan aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
“Bentuk akhlak kepada Allah diantaranya dengan tidak menyekutukan-Nya, bertaqwa kepada-Nya, mencintai-Nya, ridho dan ikhlas terhadap segala keputusan dan bertaubat, mensyukuri nikmat, selalu berdo’a, beribadah kepada-Nya, serta meniru sifat-sifat-Nya dan selalu berusaha mencari keridhoan”.
2)  Akhlak Kepada Sesama Manusia Agama Islam memberikan tuntunan akhlak yang terpuji di dalam pergaulan antar manusia satu dengan manusia yang lain. Dan terutama sekali pergaulan kita dengan keluarga, baik dekat maupun jauh, agar hubungan anggota keluarga yang satu dengan yang lainnya bisa rukun,damai dan harmonis, tidak terjerumus dalam bencana, di mana anggota keluarga yang satu dengan lainnya saling bermusuhan.
Kewajiban bagikita adalah memelihara kebahagiaan rumah tangga kita, dan menjaga keluarga kita dari bahaya api neraka. Seperti anjuran Allah SWT.Dalam surat At-Tahriim ayat 06
وَالْحِجَارَةُ النَّاسُ وَقُودُهَا نَارًا وَأَهْلِيكُمْ أَنفُسَكُمْ  قُوا آمَنُوا الَّذِينَ يَا أَيُّهَا
يُؤْمَرُونَ مَا وَيَفْعَلُونَ أَمَرَهُمْ مَا اللَّهَ  يَعْصُونَ لَا شِدَادٌ غِلَاظٌ مَلَائِكَةٌ عَلَيْهَا
Artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan".
[At Tahrim:6]
”.
 
Cara kita memelihara diri kita dan keluarga kita dari bencana neraka akhirat, antara lain kita mengajak keluarga kita agar jangan sampai melanggar apa yang dilarang dan tidak melaksanakan perintah dari AllahSWT. Oleh karena itu berakhlaqlah yang baik terhadap Allah dan anggota keluarga kita, khususnya kepada ibu bapak dan saudara-saudara, sebab ini adalah anggota keluarga yang paling dekat.Akhlak Kepada Lingkungan Yang dimaksud dengan akhlak kepada lingkungan di sini adalah segala sesuatu yang di sekitar manusia, baik itu binatang, tumbuh-tumbuhan maupun benda-benda tak bernyawa lainnya. Semua itu diciptakan oleh Allah SWT. dan menjadi milik-Nya, serta semuanyamemiliki ketergantungan kepada -Nya. Keyakinan ini mengantarkanseorang muslim untuk menyadari bahwa semua adalah umat Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik
Dalam kajian keilmuwan, akhlak di letakan dalam ruang lingkup tersendiri yang meliputi:
Bagaimana seharusnya manusia bersikap terhadap:
1.        Sang Pencipta
2.        Sesama manusia
3.        Diri sendiri
4.        Keluarga
5.        Masyarakat
6.        Lingkungan Alam, Hewan dan tumbuhan
7.        Dan juga kepada makhluk ghaib ciptaan Allah ;seperti Malikat, jin dan iblis
Sedangkan menurut Ahmad Azhar Bashir:
Cakupan Akhlak meliptui semua aspek kehidupan manusia sesuai dengan kedudukannya sebagai
Makhluk individu, sosial, penghuni alam, serta sebgai makhluk ciptaan ALLAH dengan kata lain meliputi :
1. Akhlak pribadi
2. Akhlak keluarga
3. Akhlak sosial
4.Akhlak Politik

5. Akhlak Jabatan
6. Akhlak terhadap Allah
7. dan juga terhadap Alam
Menurut kami ada satu lingkup lagi yang perlu ditambahkan; yaitu:
Bagaimana seharusnya manusia bersikap terhadap harta-benda. Harta benda sering kali membuat manusia lalai terhadap Tuhan, sehingga kami kira perlu juga untuk memahami bagaimana mensikapi terhadap harta yang kita miliki.\

B. Perbandingan Ukuran Baik Buruk dalam Akhlak dengan Aliran dalam Filsafat Etika
Perkataan akhlak sering juga disamakan dengan kesusilaan atau sopan santun. Bahkan, supaya kedengarannya lebih modern dan mendunia, perkataan akhlak kini sering diganti dengan kata moral atau etka.
Moral berasal dari Bahasa Latin yakni Mores, jamak kata mos yang berarti adat kebiasaan. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, moral artinya ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti dan akhlak. Moral adalah istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas suatu sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang layak dikatakan benar, salah, baik dan buruk. Dimasukkannya penilaian benar atau salah ke dalam moral, jelas menunjukkan salah satu perbedaan antara moral dengan akhlak, sebab benar salah adalah penilaian di pandang dari sudut hukum yang di dalam agama Islam tidak dapat dicerai pisahkan dengan akhlak.
Etika berasal dari Bahasa Yunani yakni Ethos, yang berarti kebiasaan. Yang dimaksud adalah kebiasaan baik atau kebiasaan buruk. Umumnya, kata etika diartikan sebagai ilmu. Makna etika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral atau akhlak. Di dalam Ensiklopedi Pendidikan, diterangkan bahwa etika adalah filsafat tentang nilai, kesusilaan tentang baik dan buruk.
Kecuali  mempelajari nilai-nilai etika merupakan pengetahuan tentang nilai-nilai itu sendiri.
Sebagai cabang filsafat yang mempelajari tingkah laku manusia untuk menentukan nilai perbuatan baik atau buruk, ukuran yang dipergunakannya adalah akal pikiran. Akallah yang menentukan apakah perbuatan manusia itu baik atau buruk. Kalau moral dan etika diperbandingkan, maka moral lebih bersifat praktis, sedangkan etika bersifat teoritis. Moral bersifat lokal, sedangkan etika bersifat umum (regional).
Akhlak Islami berbeda dengan moral dan etika. Perbedaannya dapat dilihat terutama dari sumber yang menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Yang baik menurut akhlak adalah segala sesuatu yang berguna, yang sesuai dengan nilai dan norma agama; nilai dan norma yang terdapat dalam masyarakat, bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Yang buruk adalah segala sesuatu yang tidak berguna, tidak sesuai dengan nilai dan norma agama serta nilai dan norma masyarakat, merugikan masyarakat dan diri sendiri. Yang menentukan baik dan buruk suatu sikap yang melahirkan perilaku atau perbuatan manusia, di dalam agama dan ajaran Islam adalah Al-Qur’an yang dijelaskan dan dikembangkan oleh Rasulullah SAW. dengan sunnah beliau yang kini dapat dibaca dalam kitab-kitab hadits.
Yang menentukan perbuatan baik atau buruk dalam moral dan etika adalah adat istiadat dan pikiran manusia dalam masyarakat pada suatu tempat di suatu masa. Di pandang dari sumbernya, akhlak Islami bersifat tetap dan berlaku untuk selama-lamanya, sedangkan moral dan etika berlaku selama masa tertentu di suatu tempat tertentu. Konsekuensinya, akhlak Islami bersifat mutlak, sedangkan moral dan etika bersifat relatif (nisbi).

C. Implementasi Akhlak dalam Kehidupan Bersama
Butir-butir akhlak di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits bertebaran laksana gugusan bintang-bintang di langit. Selain satu butir dapat dilihat dari berbagai segi, juga mempunyai kaitan bahkan persamaan dengan taqwa. Karena itu hanya dicantumkan beberapa saja sebagai contoh, diantaranya adalah :
1. Akhlak terhadap Allah SWT. antara lain :
a. Al-Hubb, yaitu mencintai Allah SWT. melebihi cinta kepada apa dan siapapun juga dengan mempergunakan firman-Nya dalam Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dan kehidupan; Kecintaan kita kepada Allah SWT. diwujudkan dengan cara melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
b. Al-Raja, yaitu mengharapkan karunia dan berusaha memperoleh keridhaan Allah SWT.
c. As-Syukr, yaitu mensyukuri nikmat dan karunia Allah SWT.
d. Qana’ah, yaitu menerima dengna ikhlas semua qadha dan qadhar Allah SWT. setelah berikhtiar maksimal (sebanyak-banyaknya, hingga batas tertinggi).
e. Memohon ampun hanya kepada Allah SWT.
f. At-Taubat, yaitu bertaubat hanya kepada Allah SWT. Taubat yang paling tinggi adalah taubat nasuha yaitu taubat benar-benar taubat, tidak lagi melakukan perbuatan sama yang dilarang Allah SWT. dan dengan tertib melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
g. Tawakal berserah diri kepada Allah SWT.

2. Akhlak terhadap Makhluk, dibagi dua yakni :
a. akhlak terhadap Manusia, diantranya :
 (1). Akhlak terhadap Rasulullah (Nabi Muhammad SAW.), dianta ranya.
(a.) Mencintai Rasulullah SAW. secara tulus dengan mengikuti semua sunnahnya.
(b). Menjadikan Rasulullah SAW. sebagai idola, suri teladan dalam hidup dan kehidupan.
(c). Menjalankan apa yang disuruh-Nya, tidak melakukan apa yang dilarang-Nya.

 (2). Akhlak terhadap Orang Tua (birrul walidain), diantaranya :
(a). Mencintai mereka melebihi cinta kepada kerabat lainnya.
(b). Merendahkan diri kepada keduanya diiringi perasaan kasih sayang.
(c). Berkomunikasi dengan orang tua dengan hikmat, mempergunakan kata-kata lemah lembut.
(d). Berbuat baik kepada bapak-ibu dengan sebaik-baiknya, dengan mengikuti nasehat baiknya, tidak menyinggung perasaan dan menyakiti hatinya, membuat bapak-ibu ridha.
(e). Mendo’akan keselamatan dan keampunan bagi mereka kendatipun seorang atau kedua-duanya telah meninggal dunia.

(3). Akhlak terhadap Diri Sendiri, diantaranya :
(a). Memelihara kesucian diri.
(b). Menutup aurat (bagian tubuh yang tidak boleh kelihatan, menurut hukum dan akhlak Islam).
(c). jujur dalam perkataan dan perbuatan ikhlas serta rendah diri.
(d). Malu melakukan perbuatan jahat.
(e). Menjauhi dengki dan menjauhi dendam.
(f). Berlaku adil terhadap diri sendiri dan orang lain.
(g). Menjauhi segala perkataan dan perbuatan sia-sia.

(4). Akhlak terhadap Keluarga, diantaranya :
(a). Saling membina rasa cinta dan kasih sayang dalam kehidupan keluaraga
(b). Saling menunaikan kewajiban untuk memperoleh hak.
(c). Berbakti kepada bapak-ibu.
(d). Mendidik anak-anak dengan kasih sayang.
(e). Memelihara hubungan silahturrahim dan melanjutkan silahturrahmi yang dibina orang tua yang telah meninggal dunia.
 
(5). Akhlak terhadap Tetangga, diantaranya :
(a). Saling mengunjungi.
(b). Saling bantu di waktu senang, lebih-lebih tatkala susah.
(c)  Saling beri-memberi, saling hormat-menghormati.
(d). Saling menghindari pertengkaran dan permusuhan.

(6). Akhlak terhadap Masyarakat, diantaranya :
(a).  Memuliakan tamu.
(b). Menghormati nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat    bersangkutan.
(c).  saling menolong dalam melakukan kebajikan dan taqwa.
(d). Menganjurkan anggota masyarakat termasuk diri sendiri berbuat baik dan mencegah diri sendiri dan orang lain melakukan perbuatan jahat (mungkar).
(e).  Memberi makan fakir miskin dan berusaha melapangkan hidup dan kehidupannya.
(f). Bermusyawarah dalam segala urusan mengenai kepentingan bersama.
(g).  Mentaati putusan yang telah diambil.
(h).  Menunaikan amanah dengan jalan melaksanakan kepercayaan yang diberikan seseorang atau masyarakat kepada kita.
(i).  Menepati janji.

b. Akhlak terhadap Bukan Manusia (Lingkungan Hidup), diantaranya :
(1). Sadar dan memelihara kelestarian lingkungan hidup.
(2). Menjaga dan memanfaatkan alam terutama hewani dan nabati, flora dan fauna yang sengaja diciptakan Allah SWT. untuk kepentingan manusia dan makhluk lainnya.
(3). Sayang pada sesama makhluk.
 
Butir-butir di atas merupakan akhlak yang baik. Ulama akhlak menyatakan bahwa akhlak yang baik merupakan sifat para Nabi dan orang-orang shiddiq, sedangkan akhlak yang buruk merupakan sifat setan dan orang-orang tercela. Dengan demikian, akhlak terbagi menjadi dua jenis, yaitu :
1.      Akhlak baik atau terpuji (Akhlaqul Mahmudah), yakni perbuatan baik terhadap Allah SWT., terhadap sesama manusia dan makhluk lainnya.
2. Akhlak yang tercela, (Akhlaqul Madzmumah), yakni perbuatan buruk terhadap Allah SWT., perbuatan buruk dengan sesama manusia dan makhluk lainnya.

Berikut akan diuraikan secara singkat mengenai akhlak buruk :
(1). Akhlak buruk terhadap Allah SWT. :
a. Takabbur (Al-Kibru), yaitu sikap yang menyombongkan diri, sehingga tidak mau mengakui kekuasaan Allah SWT. di alam ini, termasuk mengingkari nikmat Allah SWT. yang ada padanya.
b. Musyrik (Alk-Syirk), yaitu sikap yang mempersekutukan Allah SWT. dengan makhluk-Nya, dengan cara menganggapnya bahwa ada suatu makhluk yang menyamai kekuasaan-Nya.
c. Murtad (Ar-Riddah), yaitu sikap yang meninggalkan atau keluar dari agama Islam, untuk menjadi kafir.
d. Munafiq (An-Nifaaq), yaitu sikap yang menampilkan dirinya bertentangan dengan kemauan hatinya dalam kehidupan beragama.
e. Riya’ (Ar-Riyaa’), yaitu sikap yang selalu menunjuk-nunjukkan perbuatan baik yang dilakukannya. Maka ia berbuat bukan karena Allah SWT. melainkan hanya ingin dipuji oleh sesama manusia. Jadi perbuatan ini kebalikan dari sikap ikhlas.
f. Boros atau Berfoya-foya (Al-Israaf), yaitu perbuatan yang selalu melampaui batas-batas ketentuan agama. Allah
SWT. melarang bersikap boros, karena hal itu dapat melakukan dosa terhadap-Nya, merusak perekonomian manusia, merusak hubungan sosial dan merusak diri sendiri.
 
g. Rakus atau Tamak (Al-Hirshu atau Ath-Thama’u), yaitu sikap yang tidak pernah merasa cukup, sehingga selalu ingin menambah apa yang seharusnya ia miliki, tanpa memperhatikan orang lain. Hal ini termasuk kebalikan dari rasa cukup (Al-Qanaa’ah) dan merupakan akhlak buruk terhadap Allah SWT. karena melanggar ketentuan larangan-Nya.

(2). Akhlak buruk terhadap Manusia :
a. Mudah marah (Al-Ghadhab), yaitu kondisi emosi seseorang yang tidak dapat ditahan oleh kesadarannya, sehingga menonjolkan sikap dan perilaku yang tidak menyenangkan orang lain.
b. Iri hati atau dengki (Al-Hasadu atau Al-Hiqdu), yaitu sikap kejiwaan seseorang yang selalu mengingingkan agar kenikmatan dan kebahagiaan hidup orang lain bisa hilang sama sekali.
c. Mengadu-adu (An-Namiimah), yaitu perilaku yang suka memindahkan perkataan seseorang kepada orang lain, dengan maksud agar hubungan sosial keduanya rusak.
d. Mengumpat (Al-Ghiibah), yaitu perilaku yang suka membicarakan keburukan seseorang kepada orang lain.
e. Bersikap congkak (Al-Ash’aru), yaitu sikap dan perilaku yang menampilkan kesombongan, baik dilihat dari tingkah lakunya maupun dari perkataannya.
f. Sikap kikir (Al-Bukhlu), yaitu sikap yang tidak mau memberikan nilai materi dan jasa kepada orang lain.
g. Berbuat aniaya (Azh-Zhulmu), yaitu suatu perbuatan yang merugikan orang lain, baik kerugian materiil maupun non materiil. Dan ada juga yang mengatakan bahwa seseorang yang mengambil hak-hak orang lain termasuk perbuatan dzalim (menganiaya).

PENUTUP

4.1Kesimpulan
1.      Secara garis besar akhlak adalah cerminan diri seorang individu yang terlihat dari perilakunya sehari – hari yang merupakan suatu kebiasaan diri. Dan tentunya karena menjadi cerminan diri, akhlakpun menjadi penilaian terhadap individu. Terdapat akhlak yang baik yang disebutkan di atas sebagai “akhlak mulia” serta akhlak yang buruk. Setiap implementasi dari “kegiatan” akhlak tersebut akan berdampak secara sosial, karena menjadi penilaian oleh orang lain. Apabila akhlak baik dilakukan terhadap diri sendiri, orang lain, maupun kepada ALLAH swt. Maka yang terjadi adalah balasan yang positif dan penilaian positif.
2.      ”Dan aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. Pada dasarnya penciptaan manusia yang disebutkan dalam surat Adz – Dzariyaat ayat- 56 adalah beribadah untuk beribadah. Ibadah sendiri adalah proses kehidupan kita selama didunia. Dan fondasi kehidupan didunia ini adalah iman dan akhlak. Ketika seseorang mengimani ISLAM, maka harus lah berakhlak seperti yang telah di contohkan oleh Rassulallah SAW. Karena beliau di tugaskan “menyempurnakan akhlak”.
3.      Individu yang berakhlak mulia adalah individu yang dapat membedakan sesuatu yang baik dan sesuatu yang buruk dalam hal ini adalah akhlak. Dan tentu saja individu yang berakhlak mulia selain mengetahui baik-buruknya sesuatu haruslah mengamalkan akhlak yang baik dalam kehidupannya. Serta menyeru untuk meninggalkan akhlak buruk kepada sesamanya dalam kapasitasnya. Karena Rassulallah berkata “saling mengingatkanlah kalian dalam kebaikan”.



4.2Saran
Supaya tetap tegaknya agama Islam, maka hendaknya bagi pemeluknya melaksanakan perbuatan-perbuatan atau sifat-sifat yang baik dan terpuji, dengan melaksanakannya kita telah menjaga dan memelihara agama Islam.
Hendaknya bagi para orang tua mendidik anak-anaknya dengan akhlak yang baik dan terpuji sejak masih kecil, agar kelak kemudian hari tidak menyusahkan dirinya, keluarganya dan orang lain disekitarnya.
Hendaknya selain melakukan perbuatan maupun sifat terpuji agar supaya menambah dengan amalan-amalan yang berpahalaseperti ; membaca Al-Qur’an, mendengarkan pengajian dan lain-lain.


DAFTAR PUSTAKA
Umary, Darmawie. MATERI AKHLAK. Solo : CV. Ramadhani. 1986.
http://www.suaramedia.com/sejarah/sejarah-islam/7313-ibnu-miskawaih-bapak-etika-di-zaman-kejayaan-islam.html.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar